Ingat 4 amalan: Fikir, Dzikir, Syukur dan Sabar

Masjid Trangkil Temboro

Para Santri dan Para Tamu sedang Mengikuti Program Halaqoh Tajwid Untuk Membetulkan Bacaan Quran Mereka

Di Salah Satu Muhallah Temboro

Musyawarah Para Ulama Di Salah Satu Muhallah di Temboro Dalam Rangka Memikirkan Dakwah Di Seluruh ALam

Romo Kyai Uzairon Rahimahullah Di Dalem

Kyai Haji Uzairon Thoifur Abdillah Sedang Menerima Kunjungan Kyai Haji Muhammad Arifin Ilham dan Beberapa Ulama Lain

Pondok Temboro Karas Magetan

Foto Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro Karas Magetan yang diambil dari ketinggian

Makan Berjamaah di Temboro

beberapa Ulama Sedang Menikmati Jamuan Makan Berjamaah Sesuai Sunnah Baginda Nabi SAW

Showing posts with label Fadhilah Pria Shalih dan Wanita Shalihah. Show all posts
Showing posts with label Fadhilah Pria Shalih dan Wanita Shalihah. Show all posts

Saturday, 8 April 2017

WALISONGO ADALAH UTUSAN KHOLIFAH USTMANI




Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kondisi ini tidak lepas dari peranan para ulama yang disebut sebagai Walisongo (sembilan wali). Sedikit orang yang mengetahui siapa sebenarnya Walisongo dan berasal dari mana kah mereka.
Sebuah kitab bernama Kanzul Hum karya Ibnu Bathutah yang sekarang disimpan di museum Istana Turki di Istanbul menyebutkan bahwa Walisongo datang ke Indonesia atas perintah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam.
Pada tahun 1404 M (808 H) Sultan mengirim surat kepada para pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah dengan maksud untuk meminta sejumlah ulama agar diberangkatkan ke pulau Jawa. Para ulama yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kemampuan dalam segala bidang agar nantinya akan memudahkan proses penyebaran Islam.
Dengan keterangan di dalam kitab tersebut kita menjadi tahu bahwa sebenarnya Walisongo adalah para ulama yang sengaja diutus Sultan pada masa kekhalifahan Utsmani. Saat itu terdapat 6 angkatan keberangkatan yang masing-masing terdiri dari sembilan orang. Jadi jumlah sebenarnya bukan sembilan ulama tetapi jauh lebih banyak.
Angkatan satu dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim asal Turki yang berangkat pada tahun 1400an. Beliau adalah ulama yang memiliki keahlian dalam bidang politik dan sistem pengairan. Dengan berbekal keahlian tersebut maka beliau menjadi peletak dasar berdirinya kesultanan di pulau Jawa dan juga berhasil memajukan pertanian di pulau ini.
Angkatan pertama ini juga terdiri dari dua orang ulama yang berasal dari Palestina yaitu Maulana Hasanuddin dan Sultan Aliudin. Dua orang ulama ini berdakwah di Banten dan mendirikan kesultanan Banten. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Banten yang merupakan keturunan dari Sultan Hasanuddin memiliki hubungan secara biologis dengan rakyat Palestina.
Selain itu ada Syekh Ja'far Shadiq yang diberi julukan sebagai Sunan Kudus dan Syarif Hidayatullah yang disebut sebagai Sunan Gunung Jati. Kedua ulama ini juga berasal dari Palestina. Dalam proses dakwah beliau, Sunan Kudus membangun sebuah kota di Jawa Tengah yang kemudian disebut kota Kudus. Nama kota tersebut berasal dari kata Al Quds (Jerusalem).
Masyarakat Nusantara pertama kali mengenal Islam pada abad 7 Masehi atau abad 1 Hijriah. Pengaruh Islam sangat besar pada situasi politik saat itu. Dengan semakin berkembangnya ajaran Islam di Nusantara ketika itu, maka bermunculan lah berbagai kerajaan dan kesultanan Islam seperti Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang, Ternate, Tidore, Bacan (Maluku), Pontianak, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Kutai, Sambas, Banjar, Pasir, dan Sintang.
Sedangkan kesultanan yang berdiri di Jawa di antaranya adalah Demak, Pajang, Cirebon, dan Banten. Di Sulawesi, syariat Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Daerah Nusa Tenggara hukum Islam diterapkan dalam kesultanan Bima.
Perjalanan Dakwah Wali Songo
Sebelum tiba di tanah Jawa, pada umumnya para ulama ini singgah terlebih dahulu di Pasai. Penguasa Samudera Pasai yang hidup pada tahun 1349-1406 Masehi, Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah adalah orang yang mengantarkan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.
Sejak tahun 1463 Masehi semakin banyak ulama Jawa yang menggantikan ulama yang telah wafat atau berhijrah ke tempat lain. Para ulama pengganti tersebut di antaranya:
- Raden Paku (Sunan Giri)
Beliau adalah putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu yang merupakan putri dari Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan.
- Raden Said (Sunan Kalijaga)
Beliau adalah putra Bupati Tuban, Adipati Wilatikta atau disebut juga Raden Sahur. Berdasarkan sejarah masyarakat Cirebon, julukan Kalijaga berasal dari nama salah satu desa di Cirebon bernama Kalijaga. Saat Raden Said bermukim di desa tersebut, beliau sering berdiam diri dengan berendam di kali (jaga kali).
- Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Nama Bonang berasal dari nama sebuah desa di Rembang.
- Raden Qasim Dua (Sunan Drajad)
Seperti halnya Sunan Bonang, beliau juga adalah putra Sunan Ampel. Dengan demikian Sunan Drajad adalah saudara dari Sunan Bonang.
Para ulama diberi gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian dan berarti Tuanku, maka dapat disimpulkan bahwa saat itu dakwah Islam telah berjalan dengan baik dan mendapat kehormatan dari kalangan pembesar Kerajaan Majapahit.
Para Ulama Penyebar Agama Islam Di Nusantara
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Hubungan Kesultanan Nusantara Dengan Kerajaan Islam di Turki dan Arab
Hubungan antara kerajaan Islam Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah juga dapat diketahui dari keterangan seorang sejarahwan, Bernard Lewis, yang mengungkapkan bahwa pada tahun 1563 Masehi pembesar kerajaan Aceh mengutus seseorang ke Istanbul guna meminta bantuan melawan Portugis. Dia berusaha meyakinkan Khilafah bahwa raja-raja di kawasan tersebut telah bersedia memeluk Islam jika Khalifah Utsmaniyah mau menolong mereka.
Namun sayangnya pada saat itu Kekhalifahan Utsmaniyah sedang mengalami berbagai permasalahan genting yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria dan mangkatnya Sultan Sulaiman Agung. Setelah terhambat selama dua bulan akhirnya mereka membentuk sebuah armada perang yang terdiri dari 19 unit kapal perang dan beberapa kapal pengangkut persenjataan dan persediaan untuk dikirim ke Aceh.
Hal yang disayangkan adalah sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Kapal yang tiba di Aceh hanya dua unit saja dan langsung digunakan untuk mengusir Portugis. Catatan Sejarah mengenai hal ini dapat ditemukan dalam berbagai arsip dokumen negara Turki dan buku-buku yang ditulis oleh sejarahwan dunia.
Selain itu dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri juga disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer dari Khalifah Utsmaniyah berupa senjata disertai pengajar yang khusus dikirim untuk mengajarkan cara pemakaiannya.
Kaitan antara kesultanan Banten dengan kerajaan di Timur Tengah juga dapat terlihat dari gelar-gelar kehormatan yang diberikan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara. Gelar tersebut di antaranya:
- Kesultanan Banten
Abdul Qadir dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu.
- Kesultanan Mataram
Pangeran Rangsang memperoleh gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami dari Syarif Mekah pada tahun 1641 Masehi.
Pada tahun 1652 hubungan antara kesultanan Aceh dan Turki juga semakin erat dengan adanya pengiriman utusan Aceh ke Turki dalam upaya meminta bantuan meriam. Khalifah Utsmaniyah mengirim 500 orang pasukan Turki untuk mengawal pengiriman meriam dan amunisi.
Selanjutnya pada tahun 1567, Sultan Salim II mengirim armada ke Sumatera. Melihat kedekatan antara kaum muslimin di Nusantara dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, seorang pejabat pemerintahan kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, mengatakan, "Di kota Mekah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslim di Nusantara."
Menjelang abad modern pun hubungan tersebut masih terjalin baik, terbukti pada akhir abad 20 konsulat Turki di Jakarta pernah membagikan Al Quran atas nama Sultan Turki. Istanbul juga pernah mencetak tafsir Al Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili. Pada halaman depan tafsir al Quran tersebut tertulis "Dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam." Pada saat itu yang disebut Sultan Turki adalah Khalifah yang merupakan pemimpin Khilafah Utsmaniyah berpusat di Turki.
Snouck Hurgronje juga pernah mengatakan bahwa pada umumnya rakyat di Indonesia terutama mereka yang tinggal di pelosok daerah di seluruh tanah air, memandang Stambol (sebutan untuk Khalifah Utsmaniyah) masih sebagai raja bagi seluruh orang mukmin yang saat itu kekuasaannya agak berkurang karena adanya penguasaan orang kafir di Indonesia.
Melihat fakta-fakta sejarah tersebut maka dapat disimpulkan bahwa memang Nusantara pada jaman dahulu adalah bagian dari khilafah baik saat kekuasaan Khilafah Abbasiyah Mesir maupun Khilafah Utsmaniyah Turki.
Berdasarkan bentuk kekhalifahan saat itu, Syarif Mekah adalah seorang gubernur pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk daerah Hijaz. Karena itu penganugerahan gelar sultan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam dan bukan gelar semata.
Sejarah Masuknya Agama Islam Di Indonesia
Sebelum kita mengenal beberapa teori tentang penyebaran Islam di Nusantara, perlu di perhatikan bahwa Politik Luar Negeri Negara Khilafah terdiri dari dua; Da’wah dan Jihad. Awalnya negeri yang ditargetkan akan diberi dakwah, ketika menerima maka tidak ada perang di sana. Namun, ketika menolak, maka akan terjadi Jihad dan Futuhat (Pembebasan). Dua hal ini adalah politik Luar Negeri, dimana di setiap perkembangan akan disampaikan kepada Khalifah.
Itu pula yang terjadi di Indonesia. Jika penyebaran Islam di lakukan oleh pedagang semata, bukan Da’i atau utusan, maka apakah akan ada laporan kepada Khalifah? Lalu, apakah penyebaran lewat jalur perdagangan merupakan Politik Luar Negeri? Apakah penyebaran Islam dengan jalur perdagangan hanya propaganda untuk menutupi bahwa Nusantara pernah menjadi fokus dakwah Islam dan menjadi bagian dari Khilafah?
Dari teori Islamisasi oleh Arab dan China, Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia, mengaitkan dua teori Islamisasi tersebut. Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan dari Arab. Sumber versi ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku sejarah tentang China yang berjudul Chiu Thang Shu.
Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. 4 tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku itu menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni tersebut merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.
Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada masa Khilafah Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada masa Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China.
Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang versi ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ketujuh. Tentu saja, untuk sampai ke daerah tujuan, kapal-kapal itu melewati jalur pelayaran Nusantara.
Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Umumnya mereka mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat terkenal pada masa itu. Kunjungan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun 100 hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.
Lebih jauh, dalam literatur China itu disebutkan bahwa perjalanan para delegasi itu tidak hanya terbatas di Sumatera saja, tetapi sampai pula ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Pada tahun 674-675 Masehi, orang-orang Ta Shi (Arab) yang dikirim ke China itu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa. Menurut sumber ini, mereka berkunjung untuk mengadakan pengamatan terhadap Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga, yang terkenal sangat adil itu.
Pada periode berikutnya, proses Islamisasi di Jawa dilanjutkan oleh Wali Songo. Mereka adalah para muballig yang paling berjasa dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan, para Wali Songo itu masing-masing memiliki tugas untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa melalui tiga wilayah penting. Wilayah pertama adalah Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur.
Wilayah kedua adalah, Demak, Kudus, dan Muria di Jawa Tengah. Dan wilayah ketiga adalah, Cirebon di Jawa Barat. Dalam berdakwah, para Wali Songo itu menggunakan jalur-jalur tradisi yang sudah dikenal oleh orang-orang Indonesia kuno. Yakni melekatkan nilai-nilai Islam pada praktik dan kebiasaan tradisi setempat. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat luwes, mudah dan sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa saat itu.
Selain berdakwah dengan tradisi, para Wali Songo itu juga mendirikan pesantren-pesantren, yang digunakan sebagai tempat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam. Pesantren Ampel Denta dan Giri Kedanton, adalah dua lembaga pendidikan yang paling penting di masa itu. Bahkan dalam pesantren Giri di Gresik, Jawa Timur itu, Sunan Giri berhasil mendidik ribuan santri yang akhirnya dikirim ke beberapa daerah di Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia Timur lainnya.
Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Khilafah
Pada masa penjajahan, Belanda berusaha menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekuler melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama.
Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial Belanda.
Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.
Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye.
Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar.
Demikianlah, syariat Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekuler. Hukum-hukum sekuler ini terus berlangsung hingga sekarang. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah, sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.

Wednesday, 5 April 2017

TABLIGH AKBAR DR. ZAKIR NAIK DI GONTOR




Laporan Langsung Dari Tabligh Akbar Syaikh Dr. Zakir Naik, hafidzahullah, di Universitas Daarussalaam, Gontor, Selasa, 7 Rajab 1438/4 April 2017:
Bismillaah.
Setelah diawali dengan tausiyah oleh anak beliau, Fariq Naik, tentang aneka bukti kasih-sayang kaum Muslimiin di masa kaum Salafush Sholih (kaum Pendahulu Yang Salih) dan beberapa sambutan dari tuan rumah dan pemberian cinderamata, Syaikh memulai tabligh.
Dimulai dengan pujian kepada Allah - Tuhan Yang Maha Esa - kalimat pembukaan, salaam kepada hadiriin (doa untuk hadiriin pula), dan firman Allah:
قُلْ يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَآءٍۢ بَيْنَـنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَـعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْــئًا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ؕ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad):
"Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama yang lain tuhan-tuhan selain Allah."
Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka):
"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim."
(QS. Aali 'Imraan: Ayat 64)
Syaikh senang ada Fakultas yang juga mengajarkan perbandingan Agama di Gontor (juga perbandingan Madzhab, Hukum, dll.), dan menurut pihak Universitas, adalah yang terbesar di RI.
Penting untuk dimulai pembicaraan tentang konsep mengenai Tuhan, di Yahudi, Kristen, Hinduism, Islaam, dll.
Jika ditanya, berapa Dewa, maka kaum Hindu dapat menjawab banyak Dewa, namun bisa juga 1 Tuhan. Bahwa Matahari, Bulan, dll itu tuhan/dewa. Semuanya adalah God.
Sedangkan Islam mengatakan itu semuanya adalah God's, milik Tuhan.
Untuk dapat dipersatukan, perlu mengacu ke ayat di atas. Dan di kitab Hindu sebenarnya ada penegasan ini. Dan tidak boleh ada penyerupaan (termasuk gambar, patung, dll.) dan tak mungkin ada yang serupa, sebenarnya.
Brahma, adalah Creator, Al Khollaq (Pencipta). Whisnu adalah Sustainer, Al Muhaimiin (Pemelihara, Perawat). Ini diterima Muslim. Ada dalam Asmaul Husna. Namun Muslim tidak mungkin menerima penggambaranNya, juga bahwa mempunyai banyak tangan, menaiki Garuda, dll. Ini sebenarnya dilarang.
Ini juga sebenarnya ditegaskan di Kitab Keluaran dan Bilangan di Bibel di 10 Perintah Tuhan.
Jadi sebenarya ada LARANGAN demikian di Hindu, Yahudi, Kristen.
Dan Muslim percaya penuh bahwa Rosuululloh 'Isa (Esau, Yeshua, Yesus) bin Maryam 'alahissalaam adalah Rosul terkemuka, lahir tanpa ayah, dengan banyak mu'jizat, Al Masih di Akhir Jaman, dll. Namun tidak mungkin menerima bahwa beliau adalah Tuhan. Karena di Bibel juga ini ditolak. Misalnya di Yohanes 10:30, Matius 5:17, dll. banyak ayat.
Jika ada di Bibel yang menyatakan bahwa Yesus menyatakan dirinya Tuhan, maka Syaikh bersedia masuk Kristen.
Yesus menyatakan agar ikuti Hukum Taurat, di Matius 5:17, dll. Dan ikuti jalan kebenaran, sunnah beliau, a.l. di Yohannes 14:6.
Dan Surah Al Ikhlas di Al Qur'aan, adalah dasar dari keagamaan (Theology) dan penguji seluruh, aneka Agama yang dikenal manusia.
Inilah Tauhiid.
Sementara ada banyak yang disebut sebagai God (Dewa), bahkan di negara beliau - India - saja ada ribuan. Bahkan ada yang mengaku sebagai Dewa, Tuhan.
Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tidak perlu menjadi manusia, makhluk, agar mengerti apa rasanya menjadi manusia, makhluk, karena Allah lah yang menciptakannya dan segalanya!
Dan "Allah" adalah satu kata dalam Bahasa Arab. Muslim harus menggunakan ini untuk merujuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun agar orang yang tidak mengerti Bahasa Arab, Syaikh tidak keberatan menerjemahkannya ke bahasa lain, agar orang itu mengerti. Namun "God" bukanlah penerjemahan yang tepat.
Dan perlu untuk menerapkan Syari'ah. Ini juga bukan soal potong tangan yang banyak dikesankan sebagai aturan barbar. Renungkanlah bahwa negara yang paling rendah tingkat kriminalitasnya di dunia, adalah negara Islam Arab Saudi.
Misalnya juga tentang Hukum Syari'ah soal Hijab. Ini utamanya bukan soal untuk perempuan. Namun utamanya justru - pertama kali - adalah kepada lelaki. Lelaki, dinasihati, diperintahkan kepadanya, agar menundukkan pandangannya dulu. Bukan mengumbar pandangannya kepada kaum perempuan. Sementara kaum perempuan juga perlu menahan dirinya dari mengumbar auratnya. Dan agar memakai Hijab, Jilbab. Juga agar ini lebih melindungi mereka dari diganggu. Perumpamaannya, adalah sepasang saudara kembar yang sama cantinya. Satu memakai hijab Islami, satu lagi memakai baju terbuka aurat a la Western (Barat). Dan sama-sama melewati jalan kecil penuh berandalan lelaki. Syaikh bertanya, yang manakah yang akan diganggui? Hadiriin sepakat, si perempuan kedua, yang memakai baju a la Barat terbuka auratnya lah, yang lebih berkemungkinan besar diganggui.
Dan ingatlah, negara yang paling banyak pemerkosaan adalah di USA berdasarkan berbagai laporan. Jika dirata-rata secara Statistik, ada 3 pemerkosaan dalam 1 menit.
Jika Hukum Syari'ah diterapkan di USA, Syaikh dan hadiriin sepakat, angka itu akan menurun.
Karena itu Islaam menunjukkan jalan "salaamah", jalan keselamatan.
Karena itu Islam itu adalah "salaam", Peace, KEDAMAIAN.
Ditutup dengan:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ؕ اِنَّ  رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk."
(QS. An-Nahl: Ayat 125)
Sesi Tanya-Jawab:
1. Seorang perempuan, dengan suara terisak-isak, mengatakan bahwa saat usia 8 tahun, ia dipaksa ayahnya yang Kristen (ibunya Muslimah) untuk masuk Kristen. Dia bingung, apakah dia seorang Muslim atau Kristen, kini. Dan kini ingin mencari kebenaran. Dan ingin mengetahui apakah tujuan atau maksud Tuhan menciptakan manusia.
Syaikh mempertanyakan bagaimana HUKUM di RI mengenai pemaksaan macam ini, apalagi di negara yang bermayoritas Muslim seperti RI. Di negara lain, ini tidak diperbolehkan. Dan menekankan agar kaum Muslimiin lain melindungi kaum Muslimiin lainnya. Saling menjaga. Saling mengasih-sayangi. Dan mengingatkan bahwa kaum Muslimiin mempunyai agama TERBAIK (QS Aali Imraan ayat 110).
Perempuan itu bertanya apakah dirinya masih Muslim? Syaikh menjawab, jika dia masih percaya pada Satu Tuhan, maka ia adalah Muslim (ah). Dan apakah Yesus seorang Tuhan atau Rasul? Dan ini dibenarkan si perempuan, Tuhan adalah Satu, dan Yesus bukan Tuhan, namun adalah Rasul.
Si perempuan bertanya, mengapa Tuhan menciptakan manusia, segalanya.
Syaikh menjawab dengan QS adz Dzaariyaat ayat 56. Dan menerangkannya. Apa tujuannya? Permisalannya, apa sebenarnya sukses itu? Maka Syaikh menjawab dengan QS Al Ashr. Sukses itu adalah Iman, Amal Sholih, memperingatkan dan menjaga sesama manusia, memperkenalkan kebenaran kepada manusia.
Mengapa Allah menginginkan kita beribadah, berdoa?
Allah adalah The Greatest. Jika semua makhluk menyembahNya atau tidak, Allah tetap Allah, Tuhan. The Greatest.
Maka, di sholat, selain beribadah, berdoa, kita juga meminta petunjuk.
Syaikh bertanya, jika ibu si perempuan terkena serangan jantung, apa yang dilakukan? Ke dokter yang kurang pengetahuan, dokter biasa, atau dokter yang terbaik?
Si perempuan menjawab, ke dokter terbaik.
Syaikh membenarkan, karena itu kita ke ALLAH, YANG TERBAIK, TERBENAR, TERHEBAT, TUHAN ALAM SEMESTA.
Inilah juga maksud dari Al Faatihah. Diterangkannya lah makna masing-masing ayatnya. Juga di surah dan ayah lainnya. Untuk meminta guidance. Petunjuk. Penjagaan. Dan di Al Qur'an diterangkanlah bagaimana kehidupan yang selamat itu sebaiknya, seharusnya, tatacaranya.
Lalu si perempuan bertanya, mengapa Allah menghukum kita jika kita tidak beribadah?
Syaikh menjawab, bayangkanlah ada seseorang membuat perusahaan, dan ada orang yang digajinya, namun membangkang terhadapnya. Maka pantaskah orang itu digaji lagi, bahkan juga bonus?
Si perempuan, mengatakan dengan geli, bahwa ya, orang itu tidak perlu digaji, karena nakal, membangkang.
Dan Syaikh, menyatakan jika si pembangkang itu datang, maka Allah akan mengampuninya, memberikannya semua keuntungan. Karena Allah Maha Kaya, Maha Pengampun.
Dan Syaikh sampaikan, hidup ini adalah ujian. Tes. Untuk The Hereafter, Kehidupan Selanjutnya. Manusia mempunyai Free-will. Gunung, Hutan, Bumi, dll. tidak punya. Manusialah yang mempunyai keistimewaan ini. Dan jika manusia mengikuti Al Qur'an dan Al Hadits, maka in syaa Allah, kita akan selamat.
Dan si perempuan menyatakan percaya kepada Tuhan Yang Satu, dan bahwa Muhammad - shollollohu 'alaihi wasallam - adalah Rosul (UtusanNya). Tanpa paksaan. Dalam Bahasa Arab dan Inggris. Dengan terharu menangis. Disaksikan ribuan orang (menurut laporan panitia ada 15.000 an hadiriin).
Dan takbir ribuan orang bergema!
Maa syaa Allah, wallohu akbar!
Pertanyaan kedua dari Maria dari NTT.
Menurut dia, jika Muslim dari Jawa murtad ke luar pulau Jawa, akan dipenjarakan, dihukum. Menurut dia, Syaikh mengatakan itu. Moderator menyatakan Syaikh tidak menyatakan itu.
Dan si perempuan mengulangnya, mengapa jika orang beragama Islam ke pulau lain, keluar agamanya, dipenjarakan.
Dan ini bukan urusan Syaikh.
Apalagi, maaf, menurut kami, penanya itu memang kesulitan berbahasa Indonesia dan keliru memahami ceramah Syaikh. Menurut kami, maksudnya, adalah pertanyaan mengapa bila seseorang Murtad, dihukum.
Pertanyaan ketiga, Wibowo, Tionghoa, Muallaf, dari Sidoarjo. Agama keluarganya bermacam2. Pertanyaannya, apakah Allah mengutus Rosuululloh - shollollohu 'alaihi wasallam - untuk mengislamkan dunia?
Syaikh menjawab, seluruh nabi dan rosul diutus untuk menyebarkan Islam. Antara lain di QS Saba' ayat 28.
Orang itu menerimanya. Dan meminta agar dapat memeluk Syaikh. Dan diperbolehkan.
Pertanyaan keempat, dari perempuan, Dewi Nurhayati, ingin bertanya mengenai asumsi Non Muslim bahwa Rosuululloh - shollollohu 'alaihi wasallam - telah mempolitisasi agama agar Arab menjadi kaya. Misalnya soal hajj itu adalah agar negara Arab jadi kaya.
Syaikh menjawab, beliau tidak tahu ada negara lain di dunia, menghabiskan biaya sebesar Arab Saudi dalam menjaga agar Muslimiin dapat beribadah dengan nyaman dan lancar. Dari uang mereka. Bukan mencari uang dari ibadah Hajj.
Pertanyaan lain, dari Muallaf, apakah doanya bagi keluarganya yang masih Non Muslim, diijabah Allah?
Syaikh menjawab, ia sebaiknya doakan mereka agar mendapatkan hidayah, dan perkenalkan mereka akan Islam.
Pertanyaan lain, dari muallaf perempuan eks Hindu. Ibunya murtad. Bapaknya Hindu. Namun sejak 17 thn dia dibebaskan memilih agama. Lalu dia belajar Islam. Pertanyaannya, jika ia menikah, dengan Muslim, dia ikut adat siapa.
Fariq Naik, anak Syaikh Zakir Naik, menjawab, bahwa tentu saja mengikuti tatacara Islam. Dan nikahilah Muslim. Bukan yang Non Muslim.
Pertanyaan berikutnya, Rendra lelaki muallaf eks Kristen. Pertanyaannya, apakah kaum Kristen terdahulu masuk Surga? Dan bagaimana meyakinkan keluarganya bahwa Bibel sekarang sudah melenceng, agar masuk Islam.
Dijawab oleh Fariq. Kitab2 jaman dulu hanya berlaku pada masanya. Kita perlu mengikuti Al Qur'an, petunjuk terakhir. Dan ada tanda2 hubungan ini semua. Ada sisa kebenaran di edisi kitab2 itu kini. Dan itu justru menguatkan Al Qur'an.
Untuk meyakinkan keluarganya, sampaikan bahwa tidak ada sama sekali di Bibel bahwa Yesus menyatakan dirinya sebagai Tuhan.
Pertanyaan berikutnya, dari perempuan Muallaf eks Kristen. Ibunya Kristen. Ayahnya Muslim. Dia menanyakan mengapa Al Baqarah 62 kontradiktif dng bahwa Kafiruun akan ke Neraka.
Syaikh memulainya dengan menyayangkan bahwa banyak di RI, banyak terjadi pernikahan Muslim dengan Non Muslim. Beliau merasa banyak Muslimiin Indonesia masih tidak paham agamanya. Padahal Muslimiin adalah yang terbaik. Mengajak ke Surga. Dan Non Muslimiin, tidak.
Dan Syaikh menjawab, yang dimaksud, adalah mereka di masa lalu itu, adalah umat Tauhiid di masa lalu. Namun syari'ahnya sudah usai. Kini mereka harus menerima syari'ah kini jika ingin selamat. Jadi jika mereka kaum Yahudi, Kristen, dll saat ini menerima Islam, maka dosanya diampuni Allah.
Pertanyaan berikutnya, Muslimiin dari Aceh. Apakah jika bekerja untuk pemerintah yang belum menerapkan syari'ah, boleh atau tidak? Mereka Thogut atau bukan?
Syaikh menjawab, boleh, sepanjang tidak memerangi Islam. Tidak melakukan yang harom.
Pertanyaan lain, Rosita, muslimah Ambon, menanyakan polemik soal Bumi bulat atau dihamparkan, datar.
Syaikh menjawab, bukan demikian. Dihamparkan, misalnya bagaikan Karpet, adalah bagi manusia. Agar kita dapat berjalan di atasnya. Karpet tentu saja juga dapat dihamparkan menyelubungi sesuatu yang bulat, global.
Pertanyaan berikutnya, Muslim, guru dari Sumbawa. Siapa yang mengajari kaum Non Muslim hal menyembah yang salah, padahal di Kitab mereka sebenarnya ada petunjuk tentang Tauhiid.
Syaikh menjawab, adalah kaum manusianya yang mengajari yang salah. Misalnya di Kristen, kaum Gerejanya lah yang mengajari ini. Dengan tafsir yang salah. Dan mendapatkan keuntungan duniawi. Karenanya, Syaikh menyatakan agar mereka kembali ke ajaran yang benar. Misalnya tentang Kalky Autar, yang ditunggu kaum mereka dalam khazanah Hindu, sebenarnya adalah Rosuululloh Muhammad, shollollohu 'alaihi wasallam. Ada banyak buktinya. Sebenarnya.
Pertanyaannya, perempuan Muallaf. Adiknya juga sudah. Tapi orangtuanya masih Katolik. Dia bertanya, apakah masih boleh menyelamati keluarganya setiap Natal hanya untuk menghormatinya. Karena pernah 2 tahun tidak menyelamatinya, orangtuanya sedih. Bagaimana jalan tengahnya?
Fariq menjawab, ucapan selamat merayakan Natal sama seperti menyetujui bahwa Allah mempunyai anak. Ini tragis. Tak pantas. Dan sebenarnya lebih baik si Muallaf menasihati mereka. Jangan turuti Syirik. Dan justru ini adalah peluang untuk berda'wah.
Pertanyaan berikut, muslimiin dari Riau, QS Al Maaidah 51, apa arti sesungguhnya soal "Aulia"?
Syaikh menjawab, jangan ambil teman dekat, pembantu, pelindung, secara umum, bukan hanya soal pemimpin, dari Non Muslim Yahudi dan Kristen. Kalau sampai ya, maka bisa jadi berisiko digolongkan Allah seperti mereka.
Muslim, berpihaklah kepada (jalan) Allah. Maka Allah akan membantu Muslim.
Muslim jangan menjadikan mereka Pelindung. Namun lindungilah mereka.
Ini mutlak.
Pertanyaan berikutnya, Siti Nurwahyuningsih, bertanya mengapa banyak orang masuk Islam, namun banyak kelakuannya yang macam Kafir. Tak melaksanakan Islam.
Syaikh malah menanyakan ini kepada kita, Muslimiin Indonesia.
Kalau beliau bertetangga dengan Murtadiin, beliau akan sangat malu, dan berusaha menasihatinya.
Maka beliau menekankan agar kita mempelajari Al Qur'aan, dan utamanya, memepelajari terjemahan dan tafsirnya dalam bahasa yang kita mengerti.
Dan agar kaum Muslimiin bersatu.
Dan jangan hiraukan orang yang menyarankan kita menjauhi Al Qur'an dan As Sunnah.
Sudah waktunya Muslimiin Indonesia, negara yang - konon - terbanyak Muslimnya, bangkit.
Pertanyaan terakhir, Anthony, Kristen, dari Kediri. Pernah belajar sholat. Lalu murtad. Dia murtad karena menurutnya di Kristen Tuhan itu satu. Menurutnya pada akhir jaman Nabi Isa akan turun di Akhir Jaman dan menjadi Juru Selamat. Dia percaya ini.
Syaikh menjawab bahwa 'Isa - 'alaihis salaam - diangkat ke langit. Dalam keadaan hidup. Tidak disalibkan. Agar nanti di Akhir Jaman beliau kembali untuk menjelaskan bahwa beliau tidak pernah mengklaim sebagai Tuhan. Beliau akan datang sebagai manusia, Rosuululloh, sebagai umat Islam. Dan ini bahkan ada isyarahnya di Bibel. Juga bahwa beliau menerangkan bahwa akan ada Rosul berikutnya, yakni Ahmad/Muhammad, di Bibel. Maka jelas bahwa Rosuul yang terakhir, adalah Muhammad, shollollohu 'alaihi wasallam. Bukan 'Isa (Esau, Yeshua, Yesus), 'alaihis salaam.
Akhirnya orang ini percaya bahwa Tuhan itu Satu. Dan Yesus serta Muhammad adalah Utusan. Jadi dia sebenarnya bukan Murtad. Dia Muslim.
Dan bersyahadat. Dan dia menangis.
Dan dia maju ke panggung. Memeluk Syaikh. Sambil menangis.
Maa syaa Allah, wallohu akbar!
Alhamdulillaah.
Tulisan ini, alhamdulillah, diiakhiri pukul 01.01 WIB

Friday, 31 March 2017

JIKA ANAK SEKOLAH TERLALU DINI




1. Keyakinan umum...
* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yg tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas
* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.
2. Sehingga...
Ada ortu yg menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yg masuk prasekolah diusia 1,5-2 tahun.
3. Mari kita bercermin...
* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?
* Apakah kita disiapkan mjd orang tua?
* Apakah memiliki bekal yang cukup dlm mengasuh?
* Bagaimana innerchild diri kita?
4. Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu.
5. Ilmu yg kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung.
Ilmu yg setengah-tengah, berujung pada false belief (keyakinan yg salah).
Sayangnya false belief ini dpt berubah menjadi societal false belief (keyakinan yg salah pd sekelompok orang).
Jika ortu tdk memiliki kemampuan berpikir (thinking skill) yg baik, false belief akibat ilmu yg serba tanggung itu jd pembenaran bersama atas keputusan kita yg keliru.
6. Pintar ada waktunya!
Karena yg berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini hrs jadi anak yg bahagia, bukan jd anak yg pintar!
7. Kita berpikir...
"Kan di sekolah belajarnya sambil bermain"
"Kan anak perlu belajar sosialisasi"
"Kan anak jd belajar berbagi & bermain bersama"
Padahal...
* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dg beragam orang
* Saat anak diusia dini, otak anak yg paling pesat berkembang adl pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya.
8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!
Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dg ayah ibu jga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.
9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.
Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dg permainan yg siap pakai.
Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.
10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi.
Anak <5 th blm saatnya belajar sosialisasi. Ia blm bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.
Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yg sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2)
Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.
11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan & mengikuti instruksi.
Aturan & instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak?
Analogi: Seorang anak <5 thn yg sangat berbakat dlm memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yg banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yg dirasakan anak: pusing!
12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.
Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa.
Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.
Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).
anak yg mengalami BLAST, lebih rentan mjd pelaku & korban bullying, pornografi & kejahatan seksual.
13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah...
Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa teachable moment, krn memang ada anak yg mampu sekolah lebih cepat dr ketentuan umum yg berlaku. Ortu harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan ortu, krn otak anak belum sempurna bersambungan.
14. Ciri anak memasuki masa teachable moment.
* Menunjukkan minat utk sekolah
* Minat tersebut bersifat menetap
* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.
15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?
* TK A → usia 5 th
* TK B → usia 6 th
* SD → usia 7 th
Dibawah usia 5 th, anak tdk perlu bersekolah.
Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain & terbentuknya kelekatan.
Jangan kau cabut anak2 dari dunianya terlalu cepat, krn kau akan mendapatkan orang dewasa yg kekanakan. -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-
Sumber: Yayasan Kita & Buah Hati

Monday, 27 March 2017

Kesalahfahaman terhadap Dawah dan tabligh dikenal ngak ada nahi mungkarx



Seseorang telah datang kepada saya lalu bercerita bahwa dia ingin ke IPB, bahwa ayahnya pencinta agama. Katanya dulu dia bercerita pernah membunuh pendeta ditahun 74 asbab ingin menghancurkan islam. Saat ini ayahnya melarang dirinya untuk ikut dakwah. Alasannya Tabligh ini ada kekurangannya yaitu tidak ada nahi mungkar jadi cuman amar makruf saja. Dia pingin dalam kerja dakwah ini ada kerja nahi mungkarnya juga. Begitulah anggapan orang ahli agama diluar kerja dakwah hari ini.

Hari ini kаlаu orang mеlіhаt dari jаuh suatu rumаh tарі dіа tidak mеmаѕukі rumаh tеrѕеbut lаntаѕ mеnіlаі dari luarnya aja. Dia akan berkata ini rumah tidak ada dapurnya, ini rumah tidak ada wc, tidak ada ruang tamunya. Bagaimana bisa dia tahu ? sedangkan dia tidak masuk kedalam rumah. Jika dia tidak masuk maka tidak akan tau. Padahal itu semua ada semua, andaikan orang itu mau masuk kedalam rumah.
Hari ini orang yang tidak masuk kedalam kerja dakwah seperti itu pandangan, hanya dengan anggapan anggapan saja menilai dari luar. Ini karena mereka tidak ada dalam tabligh sehingga beranggapan didalam tabligh ini tidak ada nahi mungkarnya, tidak ada ilmunya lah, dll. Padahal kalo sudah di dalam semua itu ada.
Hari ini orang beranggapan yang namanya nahi mungkar itu harus dengan show of force, dengan keuatan dan kekerasan. Nahi mungkar misalnya rumah-rumah yang ada perjudiannya digerebek, yang ada jual minuman kerasnya digerebek, prostitusi digerebek. Jаdі hаrі іnі Tabligh іnі dіаnggар lemah karena tidak аdа nahi mungkаrnуа. Padahal didalam dakwah ini sudah ada didalamnya kerja nahi mungkar. Mereka merasa tabligh ini tidak ada nahi mungkarnya seperti yang mereka kerjakan.
Padahal kalau kita perhatikan orang orang yang ikut dakwah hari ini tidak sedikit dari mereka mantan preman, mantan penjahat, mantan pemabuk, mantan penjudi, mereka yang dulunya adalah аhlі mаkѕіаt. Aѕbаb ikut dаkwаh mеrеkа bеrhеntі ѕеndіrі, tіdаk аdа раkѕааn, mеrеkа ikut saja akhirnya berhenti sendiri. Jadi sebenarnya tanpa disadari kerja dakwah ini sudah ada kerja atas nahi mungkar. Para ahli kemungkaran dengan mengenal kerja dakwah ini mereka berhenti dengan sendirinya dengan kesadaran mereka. Mungkin saja hari ini orang berangapan bahwa kerja nahi mungkar itu harus dengan cara menggrebek, melakukan kekerasan perlawanan kepada ahli maksiat. Bisa saja tempat maksiatnya bubar, tapi ahli maksiatnya tetap akan cari tempat yang lain dimana dia bisa berbuat maksiat. Jadi dengan penggrebekan maksiat tidak berhenti sebenarnya hanya pindah lokasi bersama dengan ahli maksiatnya. Sedangkan dаkwаh tаrgеt kita аdаlаh ahli mаkѕіаtnуа bukan tempat maksiat. Dеngаn mеngаjаk mereka dalam dakwah nanti ahli maksiat itu akan berhenti sendiri, tidak perlu ada paksaan. Sehingga nahi mungkаr berlaku dеngаn ѕеndіrіnуа. Kalo semua ahli mаkѕіаt іnі ѕаdаr lаlu tobat mаkа tеmраt maksiat tidak laku, nanti akan hilang dengan sendirinya.
Nahi Mungkar yang dilakukan Nabi saw bukanlah seperti yang dibuat hari ini dengan menggrebek tempat-tempat maksiat, memerangi tempat maksiat, menghancurkannya, tidak seperti itu. Yang Nabi saw lakukan adalah memberi dakwah kepada pelaku maksiat sehingga iman masuk kеdаlаm hаtі mеrеkа. Jika іmаn ѕudаh masuk mаkа mеrеkа аkаn berhenti dengan ѕеndіrіnуа.
Sаlаh satu pelajaran Hikmah Dakwah Nabi saw ketika beliau berdakwah dimekah tidak ada satu patungpun yang dihancurkan oleh Nabi saw dan para sahabat RA. Para sahabat RA dahulu itu para penyembah patung, dan ketika nabi dakwah kepada mereka tidak ada satu patungpun yang nabi saw hancurkan. Nаmun ѕеtеlаh Imаn masuk kеdаlаm hаtі para sahabat asbab dakwah nаbі ѕаw, mаkа mеrеkа ѕеndіrі yang menghancurkan berhala-berhala tersebut.
Maulana Ilyas ada kedatangan ulama dari Saudi Arabia. Dia berkata kepada Maulana Ilyas apakah maulana tidak tahu bahwa ada hadits jika melihat kemungkaran tahanlah dengan tanganmu. Kalo tidak bisa tegurlah dengan kata-kata atau ucapan. Kalo masih tidak bisa juga maka benci dalam hati. Maulan Ilyas katakan bahwa hadits itu ada diatas kepala saya maksudnya kedudukan hadits itu mulia. Lalu si ulama ini bertanya kalo tau kеnара tіdаk diamalkan ? іtu dіѕеbеlаh mаrkаz nіzаmmudіn аdа kuburan ulаmа Sуеіkh Nіzаmmuddіn yang disembah sembah kenapa tidak diberantas saja, kenapa hanya sibuk dakwah saja.
Lalu Maulana Ilyas bertanya itu hadits untuk saya atau untuk ummat. Ulama arab itu berkata itu untuk ummat. Lalu maulana Ilyas bertanya lagi kamu ini dari ummat apa bukan ? dia menjawab iya saya dari ummat. Apakah yang bisa kamu lakukan dengan hadits itu. Ulama itu katakan saya akan serbu tempat itu. Maulana bertanya ketika diserbu apa yang hasilnya ada manfaatnya gak ? ulama itu katakan yang terjadi pertengkaran dan perkelahian. Lalu maulana Ilyas bertanya lagi apakah masalah selesai ? Ulama itu menjawab tidak, mereka tetap datang lagi kesana. Maulana Ilyas katakan kаlіаn mеnуеrаng dаn bеrkеlаhі sesama оrаng іѕlаm ditempat mаkѕіаt tарі mаѕаlаh tіdаk selesai bukan. Maka ulama itu katakan kalau bergitu harus bagaimana caranya ? Maulana ilyas katakan di dalam hadits itu tidak dijelaskan, apakah kita menggunakan tangan untuk berkelahi atau menyerang orang lain, apalagi orang islam. Hadits itu meminta kita merubah keadaan dengan tangan. Ternyata dengan cara engkau ini tidak merubah keadaan, bahkan malah berkelahi dan mereka tetap datang. Caranya bagaimana ? Maulana Ilyas katakan seharusnya kita pegang tangan mereka, kita undang mereka makan, ajak minum2, lalu dakwahkan ke mereka bahwa yang kalian sembah dikubur itu adalah ulama. Andaikan dia masih hidup maka dia akan sampaikan kalau punya hajat itu mintanya ke Allah jangan minta kepada mahluk. Dakwahkan ke mereka seperti itu, karena mereka yang datang itu ke makam syekh nizammuddin itu umumnya karena ingin hajatnya terpenuhi. Biar pangkatnya naiklah, harta tambah banyaklah, dagangan makin larislah, dan lain lain. Maka sampaikan kepada mereka bahwa syekh nizammuddin ini seorang ulama besar, dia mengajarkan kepada pengikutnya kalau ada masalah atau punya keinginan mintalah kepada Allah swt. Buat hubungan baik dengan mereka, dengan Iqrom, jika dakwah kita kena di hati mereka nanti dengan sendirinya mereka akan berhenti dari menyembah kuburan.
Begitu juga dalam dakwah kita tidak melakukan nahi mungkar dengan cara menggrebek atau menyerang tempat tempat maksiat. Kita juga tidak menyampaikan didepan muka mereka yang sedang berjudi bahwa judi ini haram, tidak bukan seperti itu cara kita. Justru kita dakwahkan kepada mereka tentang fadhilah fadhilah amal dan tentang kehidupan akherat, kenikmatan kenikmatan yang Allah janjikan di akherat dengan amal agama. Sampaikan kepada mereka kita hidup ini tidak selamanya, masih ada kehidupan berikutnya yang menanti kita, maka kita perlu buat persiapan. Orang yang berbuat maksiat bukan dia tidak tahu bahwa maksiat itu salah, jika kita serang kesalahan dia pasti marah. Ibarat luka kita kasih obat merah fadhilahnya biar sembuh, Tapi kalo luka kita kаѕіh gаrаm dia pasti аkаn kesakitan. Bеgіtu juga оrаng yang bеrmаkѕіаt іnі ѕереrtі lukа kalo kita salahkan ini ibarat kita kasih garam ke lukanya, dia pasti marah.
Jadi dakwah kita kepada ahli mаkѕіаt bukan lаngѕung mеnуеrаng ke реrkаrа mаkѕіаtnуа уаng dіа ѕеndіrі jugа udаh tahu bahwa itu salah. Justru kita dakwahkan ke mereka tentang pentingnya iman dan amal. Iman аmаl ini seperti nur аtаu саhауа jika аdа nur maka kеgеlараn pasti mеnуіngkіr. Itulah dаkwаh kita dengan mengajak kepada yang makruf dengan sendirinya yang mungkar akan lenyap. Kalo iman sudah mаѕuk maka dеngаn sendirinya kemungkaran аkаn bеrhеntі.
Sеbаgаіmаnа dаlаm dаkwаh bil makruf kita ini salah satunya mengajak kepada sholat. Jika sholat sudah dikerjakan dengan benar salah satu khasiatnya adalah mencegah diri kita dari perbuatan yang mungkar.
“Inna sholata anil fahsyai wal mungkar” : sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Jika umat islam sudah sholat dengan baik dan benar maka nanti dengan sendirinya kemungkaran kemungkaran itu akan ditinggalkan, melalui kekuatan sholat itu sendiri. Kalo kita mencegah langsung pada kemungkarannya pada umumnya mereka marah. Sebagaimana seorang anak kecil sedang bermain pisau tajam itu berbahaya buat dia. Kalo kita rampas pisaunya dia akan nangis dan dia akan marah. Seharusnya kita kasih dia mainan yang lain yang kira kira dia sukai sehingga dia tinggalkan pisaunya dengan sendirinya.
Dakwah kita ini dengan damai, kasih sayang, akhlaq yang baik bukan dengan paksa apalagi menyerang. Ajak orang kepada keimanan, kepada Allah, kepada akherat, kepada ibadah. Kalau kita datang kepada orang yang melarat secara ekonominya maka kita sampaikan ke mereka fadhilah sholat. Sampaikan kepada mereka bahwa kalo dengan sholat Allah swt akan datangkan rezeki kepada kita dengan mudah, akan diberkahi, dijauhkan dari kesempitan hidup. Jadi kesulitan kesulitan hidup yang kita hadapi hari ini jutru akibat karena kita tidak sholat Kalo kita sholat maka nanti masalahnya аkаn Allаh ѕwt ѕеlеѕаіkаn.
Dulu kеtіkа tѕunаmі dі Aсеh, rоmbоngаn rombangan dakwah datang untuk membantu disana sekaligus memberikan dakwah nasehat-nasehat. Namun mereka ada yang mеnjаwаb kami tidak butuh nasehat kami butuh uаng untuk makan. Mеmаng bаnуаk dаrі оrgаnіѕаѕі organisasi lain datang membawa uang, bekal makanan, bantuan pakaian dan lain-lainnya. Padhal sumber musibah itu datangnya asbab dosa, asbab perintah Allah ditinggalkan. Perkara ini kalo kita tidak ingatkan ke mereka, walaupun jangka pendek mereka terobati dengan uang dan bekal lainnya, namun kalau mereka tidak bertaubat dan masih berbuat dosa maka musibah akan datang lagi. Jadi tidak menyelesaikan masalah juga.
Ulama memberikan analogi ada seorang pemuda mengiris tаngаnnуа lаlu bеrtеrіаk mіntа tоlоng agar di оbаtі. Mаkа dаtаng оrаng, dіоbаtіn lаlu dіbаlut lukanya. Setelah selesai diobatin maka si orang ini mengiris lagi tangannya yang lain lalu teriak teriak minta tolong. Maka datang lagi orang mengobatin dan membalut luka irisannya tadi. Setelah selesai menolong diobatin dan dibalut, kembali lagi si permuda mengiris lagi tangannya, luka lagi, teriak lagi minta tolong. Maka kata ulama menolong orang yang seperti ini tidak ada gunanya. Justru yang harus kita lakukan hentikan perbuatannya mengiris ngiris tangannya baru dia berhenti. Umat hari ini seperti itu, bencana datang kita cuman kirim uang makanan, tapi sumber maslahnya gak kita pikirkan. Nanti mereka berbuat dosa lagi, maka musibah datang lagi, teriak teriak lagi minta tolong, begitu terus jadinya. Hentikan umat dari perbuatan dosa maka nanti musibah akan terhenti, ini yang penting. Yakinkan bahwa segala musibah yang terjadi ini asbab dosa dosa kita. Kalau tidak akan terus seperti itu, terus musibah datang kepada kita asbab dosa-dosa kita. Mungkin pengobatan berupa uang, pakaian, makanan akan datang ketika terjadi musibah tapi kalo gak dicegah berbuat dosa maka musibah akan terus datang. Jika tidak ada dakwah iman dan amal maka yang kemaksiatan ini hanya akan berpindah pindah saja bersama dengan pelaku maksiatnya. Sehingga muѕіbаh itu tіdаk berhenti dаtаng asbab dosa dоѕа уаng masih dіbuаtnуа.
Kita juga dalam kerja dakwah juga mengirim rombongan rombongan ke daerah daerah yang tertimpa musibah. Kita datang ke mereka membawa uang, makanan, baju yang diperlukan untuk mereka dengan kemampuan kita masing masing. Tapi yang utama adalah kita datang ke mereka juga membawa agama, nаѕеhаt bahwa segala muѕіbаh yang tеrjаdі ini аѕbаb dоѕа dоѕа kita. Jika аgаmа ѕеmрurnа dіаmаlkаn pasti Allah swt akan hindari kita dari musibah. Kalaupun musibah itu tetap datang maka nanti Allah swt akan tolong kita keluar dari musibah asbab amal amal agama yang kita buat.
Hari ini jika suatu daerah islam umat islamnya dianiaya, maka banyak orang sukarelawan siap jihad datang ke daerah tersebut. Umat islam akan marah jika mereka melihat umat islam didzalimin di tempat lain. Semua akan angkat pedang siap jihad jika umat islam di dzalimin di suatu wilayah dimana mana hari ini. Dulu kalo di indonesia kayak di ambon, dari kita di jawa umat islam banyak yang siap angkat pedang jihad kesana. Begitu juga dibelahan dunia lainnya kayak di palestina misalnya. Namun anehnya hari umat islam memikirkan keadaan umat islam yang susah tapi tidak siap membantu agama. Jadi ada perbedaaan : membantu orang islam dan membantu agama islam. Kita hari ini mikirnya membantu orang islam tapi tidak mau memikirkan agama islam.
Ketika Nabi saw wafat dan Abu Bakar Ash Shidiq diangkat menjadi khalifah, saat itu terjadi pergolakan. Nabi saw memberi amanah аgаr rombongan uѕаmаh ѕеgеrа dіbеrаngkаtkаn fіѕѕаbіllіllаh. Nаmun keburu Nаbі wаfаt terjadi pergolakan hebat madinah dalam bahaya. Namun oleh abu bara ra pasukan usamah tetap dikirimkan. Umar rа protes іnі kok bukаnnуа bertahan menjaga mаdіnаh kok mаlаh dіѕuruh pergi juga. Ketika itu madinah sudah dikepung oleh bangsa romawi mau menyerang dari luar, munafiqin siap membikin pergolakan didalam, yahudi siap berontak, orang-orang islam tak sedikit yg murtad serta tak bayar zakat. Jadi kondisi sangat kacau saat itu kok abu bakar ra malah ngirim rombongan keluar fissabillillah bukannya bersi kukuh menjaga umat dimadinah dari agresi menurut umar ra. Kaum munafiqin, musyrikin, serta Yahudi beranggapan kalo nabi saw telah tak ada berarti tak ada lagi pertolongan dari Allah swt. Jadi madinah kosong, sedangkan di madinah kata umar ra tak sedikit orang-orang tua, anak, anak bahkan istri istri nabi saw yg butuh dijaga. Kenapa justru laki lakinya dikirim semua keluar fissabillillah bukannya bersi kukuh di madinah menjaga umat disini yg dalam bahaya.
Dalam momen ini terjadi perbedaan pendapat diantara dua teman ra yg keimanannya tak diragukan lagi. Umar RA ini dikatakan andaikata ada nabi lagi seusai aku kata rasulllullah saw jadi umar merupakan orangnya. Abu Bakar RA ini saat tetap nasib Allah swt telah memberi tau salam kepadanya asbab pengorbanannya untuk agama, bahkan kata nabi saw semua hutangku terhadap para teman telah aku lunasi kecuali abu bakar ra hanya Allah swt saja yg dapat membayarnya. Perbedaan antara Abu bakar ra serta Umar ini lumayan mencolok. Umar RA dsatu segi ingin menyelamatkan Umat Islam di Madinah, sedangka Abu Bakar RA ingin menyelamatkan agama islam. Kata abu bakar tak dapat memberangkat rombongan usamah itu telah menjadi perintah Nabi saw. Apakah aku akan biarkan agama berkurang saat aku tetap hidup, tak bisa, kata abu bakar ra. Aku lebih rela menonton istri istri nabi saw dibunuh lalu bangkainya dimakan oleh serigala dibanding wajib menonton agama berkurang dijamanku. Jadi Abu Bakar lebih tinggi fikirnya dіbаndіng umar rа. Abu Bakar lеbіh memilih menyelamatkan agama terlebih dаhulu. Kalo kіtа tolong agama Allah swt jadi Allah swt akan tolong umat. Tapi kalo umat telah tinggalkan agama jadi Allah tak akan tolong umat. Asbab abu bakar kirimkan rombongan rombongan fissabillillah sesuai arahan nabi saw jadi persoalan Allah swt selesaikan, romawi kabur, pemberontakan dapat diredam, yg murtad masuk islam laigi, yg tak mau bayar zakat sehingga bayar zakat.
Hari ini kita memikirkan umat didzolimin dimana mana siap angkat senjata, tapi saat agama ini sulit ditinggalkan tak ada yg siap buat nolong agama. Kita tak sadar yg meninggalkan sholat itu merusak agama. Asholatu Imaddudin : sholat itu tiang agama. Barangsiapa yg mendirikan sholat dirinya telah mendirikan agama. Barangsiapa yg meninggalkan sholat dirinya telah meninggalkan agama. Jadi kali ini yg menghancurkan agama bukan orang-orang yahudi alias orang-orang nasrani, namun orang-orang islam itu sendiri. Maka gerakan kita ini mengundang orang-orang semakin untuk sholat, untuk memakmurkan mesjid, untuk hidupkan amal amal agama.
Sedangkan orang-orang yg tak paham akan berpikir masa islam akan maju dengan tutorial semacam itu. Ngajak-ngajak orang-orang sholat bagaimana islam dapat maju kalo yg dipikirkan sholat saja. Padahal dahulu teman ini tak ada yg pakar teknologi alias pakar science. Bahkan kebanyakan para teman gak dapat menyimak tak dapat berhitung, tapi semua teman ra pakar sholat, pakar iman serta pakar amal. Maka dalam kondisi minim persenjataan, mіnіm teknologi, mіnіm science, minim ekonomi tарі juѕtru negara nеgаrа ѕuреr роwеr kауаk rоmаwі serta persia takluk dibawah teman ra. Bahkan dibawah kekhalifahan umar ra 1/3 dunia sanggup dikuasai.
Hari ini orang-orang berpikir bahwah tabligh ini alergi sama politik bagaimana mau berkuasa padahal untuk mengubah kondisi itu butuh berkuasa. Tabligh pun berpolitik hanya saja politik dalam tabligh ini tak sama dengan politik yg ada sekarang. Kalo politik yg ada kini fikirnya bagaiman yg berkuasa dapat digulingkan, dapat dijatuhkan, kalo terpilih. Bikin partai apabila dipilih kelak dari partai mereka akan mandat nyatanya kenyataannya tak sedikit juga yg khianat. Sunatullah itu merupakan dalam sebuah hadits andaikata sebuah negeri umat ini maksiat terhadap Allah swt jadi kelak akan Allah swt akan datangkan pemimpin yg dzolim, khianat, serta korup. Masuk diakal kalo dipikir pikir bagaimana mungkin pemimpin yg sholih muncuk ditengah tengah masyarakat yg maksiat. Kalo umat ini taat terhadap Allah swt baru kelak akan Allah datangkan pemimpin yg sholih serta amanah. Melalui umat yg taat serta pemimpin yg sholih kelak allah turunkan keberkahan dari langit serta dari dalam bumi. Jadi tak mungkin kita berlawanan dengan sunatullah berharap dari partai politik pemimpin yg mandat serta sholih timbul ditengah tengah masyarakat yg maksiat. Maka politik kita ini merupakan memikirkan bagaimana umat ini baik serta mau taat terhadap Allah swt agar kelak Allah dwt datangkan kondisi baik serta pemimpin yg baik. Ternyata kali ini apabila kita tak siapkan masyarakat agar sehingga taat terhadap Allah, masyarakat tetap dalam kondisi maksiat terhadap Allah swt, kelak akhirnya yg terjadi pemimpin yg baik sehingga dzolim, yg mandat sehingga korup, begitu jadinya. Kalo masyarakatnya mau taat terhadap Allah swt kelak akan Allah rubah bahkan pemimpin dzolimpun dapat sehingga adil, amanah, serta baik. Inilah janji Allah. Jika kita ingin mendatangkan pemimpin yg adil ditenga masyarakat yg khianat, maksiat, serta durhaka terhadap Allah swt ini merupakan tindakan yg sia sia. Seperti mendirikan benang basah, tak mungkin.
Melalui Dakwah ini kelak Allah swt akan datangkan pembetulan dari ekonomi, kekuasaan, kesejahteraan. Namun Allah swt tak akan mau mengubah kondisi sebuah kaum sebelum kaum itu sendiri perjuangan buat merubahnya. Apa yg diusahakan untuk dirubah ? yaitu amal amalnya. Insya Allah kita siap semuanya ? Insya alloh

Boncengananak2.blogspot.com


Thursday, 23 March 2017

ALLOH BERKAHI MALAM PENGANTIN KALIAN



Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu anhu menyampaikan kisah tentang ibunya sendiri, wanita mulia yang mengantarkannya menjadi orang besar yang dekat dengan Rasul shallahu ’alaihi wa sallam, yaitu Ummu Sulaim radhiyallahu anha.
Kisah ini adalah kisah antara Ummu Sulaim, sang bunda, dengan suaminya, yaitu Abu Thalhah. Ia adalah ayah tiri Anas bin Malik.
Anas radhiyallahu anhum ajma’in berkata bahwa Abu Thalhah punya anak kecil, artinya adalah adiknya Anas bin Malik, satu ibu. Anaknya Abu Thalhah suatu hari sakit. Anak kecilnya sakit, namun Abu Thalhah harus pergi, maka pergilah ia. Qodarullahu ma’syaafa’al, ternyata anak itu meninggal. Ketika anak itu meninggal, Abu Thalhah tidak tahu. Maka ketika Abu Thalhah pulang, ia tidak segera diberitahu oleh sang istri, Ummu Sulaim radhiyallahu anha. DalamThobaqot Ibnu Sa’ad, bahkan Ummu Sulaim berkata kepada orang-orang yang mengetahui berita meninggalnya anak kecil ini, kata Ummu Sulaim “La tukhbiru Aba Thalhah hatta akun ana ukhbiru.” “Jangan kabri Abu Thalhah, biar aku sendiri yang mengabari dia.”  Nampaknya Ummu Sulaim punya cara untuk menyampaikan kesedihan yang pasti juga menguras hatinya, karena ia ibunya. Tentu sangat menguras hati.
Tetapi, subhanallah, Ummu Sulaim ini wanita cerdas. Wanita yang kokoh jiwanya dan kuat tawakalnya. Ia ingin menyampaikan kesedihan pada suaminya di waktu yang tepat tidak mau mengganggu hari istimewanya, setelah berpisah dan bertemu di malam yang istimewa itu.
Maka malam itu Ummu Sulaim menyiapkan makan malamnya, mereka makan malam berdua ibarat pengantin baru. Malam yang sangat indah dan bahkan mereka berdua menyelesaikan malam itu dengan penuh keindahan, Abu Thalhah mencampuri istrinya,subhanallah. Esok paginya, semua dalam keadaan bahagia, nyaman. Maka Abu Thalhah yang sebenarnya sudah bertanya ketika baru datang, bagaimana keadaan putraku? Dan ketika itu Ummu Sulaim menjawab, “Dia lebih tenang dibandingkan sebelumnya.”
Pada pagi hari itu, Ummu Sulaim berkata pada Abu Thalhah, “Wahai Abu Thalhah, ada keluarga fulan meminjam sesuatu dari keluarga fulan, tetapi begitu diminta barangnya, ternyata tidak mau memberikannya.” Abu Thalhah menjawab, “Tidak boleh itu, karena pinjaman itu harus dikembalikan kepada yang punya.” Ternyata ini sebuah muqadimah. Lagi-lagi wanita cerdas bicara dengan suaminya menggunakan muqadimah yang indah. Kemudian Ummu Sulaim menyampaikan: “Ssesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah dan Allah telah mengambilnya.”
Subhanallah, kemudian Abu Thalhah mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, dia langsung pergi ke Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam dan menyampaikan duka ini berharap mendapatkan hiburan dari NabiShallahu ’alaihi wa sallam. Dan Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam berkata pada Abu Thalhah, “Apakah semalam kalian menjadi pengantin baru?” Kata Abu Thalhah, “Ya, Rasulullah.” Maka Rasulullah Shallahu ’alaihi wa sallamberkata, “Allahumma barik lahuma (Ya Allah berkahi keduanya).” Dalam riwayat lain, Nabi mengatakan, “La’alallah ha an yubarika lakuma fil lail lakuma (Semoga Allah menjadikan malam kalian sebagai malam yang diberkahi oleh Allah subhana wa ta’ala).”
Apa hasil dari doa itu?
Hasilnya adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalam Al-Minhaj dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari’, ternyata benar bahwa malam itu adalah malam di mana setelah itu Ummu Sulaim hamil. Dan lahirlah anak yang dinamai dengan Abdullah. Bahkan langsung ditahnik oleh Nabi shallahu ’alaihi wa sallam dan ternyata Abdullah ini memiliki sembilan anak-anak yang sholeh. Semuanya ulama, dan semuanya hafal Al-Qur’anul Karim. Subhanallah.
Inilah arti dari sebuah keberkahan untuk anak-anak kita. Maka lakukan semua hal dalam keluarga kita atas dasar Allah dan Rasul-Nya, agar diberkahi. Kalau diberkahi, berapa pun jumlah anak-anak kita dan cucu kita, maka seperti inilah keberkahannya. Akan menjadi orang sholeh, ahli Al-Qur’an, bahkan menjadi ulama.
Semoga Allah memberkahi keluarga kita semua. Wallahu ta’ala ‘alam  bishowab.

Monday, 13 March 2017

KISAH NYATA .... HIDAYAH



Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdo'a bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”
Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam.
Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.
Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang.
Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.
Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai Kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.
Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik.
Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).
Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya.
Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.
Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.
Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan.
Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.
Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja
Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.
Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”
Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan.
Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.
Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”
“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.
“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.
Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung.
Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.
Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta.
Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata,
“Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”
Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.
Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan.
Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.
Sepeninggal anaknya Rio, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil.
Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu,
”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.
Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”
“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.
Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp 17.850.000.
Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun.
Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.
Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan,
“Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdo'a saja.”
Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.
Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”.
Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya.
Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.
“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai.
Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.”
Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.
Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku.
Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.
Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.
Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.
“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.
“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.
Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam
Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan.
Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.
Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung.
Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.
Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.
Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia.
Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.
Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu.
Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”
Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.
Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat.
Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.
Pak Martono SH beliau dulu waktu Dirut Telkom jaman nya Pak Cacuk, bertugas sbg Kasekper, Ka Inditor, Kadiv Properti.
Setelah kembali moslem Beliau mewakafkan 7 ha tanahnya untuk pesantren Baitul Hidayah di Bandung. *Subhanallah.*
*ALLAH MAHA PENYAYANG KEPADA HAMBA-NYA....*
Kisah fakta.... tolong sebarkan... bagian da'wah kita.... jangan berhenti di tangan anda
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته
١٩-٠٢-٢٠١٧ دارى مارويا ...  بدر زمان

Sunday, 5 February 2017

SALAH KAPRAH TENTANG POLIGAMI


.
1. Banyak orang bilang bahwa poligami itu merebut suami orang.
.
*Ralat :*
*Yang benar adalah poligami itu memiliki suami secara bersama sama yang sah menurut syariat agama Islam. Kalau merebut / direbut berarti istri lama tidak memiliki hak lagi alias dicerai. Kalau ada yang dicerai berarti tidak terjadi poligami tetapi monogami.*
.
2. Banyak orang bilang bahwa poligami itu harus diizini istri tua.
.
*Ralat :*
*Poligami itu tidak perlu izin kepada istri , ketika Rasululloh menikahi wanita Yahudi cantik bernama Shafiyyah binti Huyay al Akhtab. Rasululloh memberitahu Sayyidah Aisyah, bahwa beliau menikah dengan Shafiyyah. Ini membuat Sayyidah Aisyah cemburu dan mengatakan : "Ia seorang wanita Yahudi." Dan dijawab oleh Rasululloh : "Janganlah engkau berkata seperti itu, karena ia telah masuk Islam, dan baik pula keIslamannya.*
.
3. Banyak orang bilang bahwa poligami berdosa karena menyakiti perasaan wanita.
.
*Ralat :*
*Poligami itu suami menggunakan haknya, cuma kadang istri iri,(bukan salahnya orang yang menggunakan haknya, tapi salahnya orang yang iri). maka poligami menguji keikhlasan dan keridhoan wanita terhadap ketentuan Alloh. Semakin ikhlas maka semakin banyak pahala. Semakin tidak ikhlas apalagi diwujudkan dalam bentuk kemarahan dan perbuatan anarkis maka semakin bertambah dosa. Kalau masalah cemburu, istri Rasululloh dan istri² Sahabat Rasululloh yang berpoligami kadang juga cemburu satu sama lain. Tetapi ini tidak berarti bahwa Rasululloh dan para Sahabat menyakiti perasaan istri²nya. Kalau diartikan bahwa cemburu itu menyakiti perasaan istri, maka tidak mungkin Rasululloh dan para Sahabatnya dijamin Masuk Surga oleh Alloh. Cemburu adalah wujud tanda cinta istri kepada suami bukan wujud perlakuan suami menyakiti hati istri.*
.
4. Banyak manusia yg bilang bahwa pelaku poligami jaman sekarang tidak bisa berbuat adil seperti jaman Nabi.
.
*Ralat :*
*Yang benar adalah bahwa berbuat adil itu bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan di manapun tidak dibatasi oleh jaman. Jika Umat Nabi Muhamad tidak bisa berbuat adil dalam poligami maka poligami akan dilarang secara mutlak. Tapi Al Quran berlaku sepanjang masa termasuk ayat diperbolehkannya poligami. Dan belum pernah dihapus/dimanshuk.*
.
5. Banyak manusia yang bilang bahwa istri pertama harus diperlakukan lebih istimewa dibanding istri kedua, ketiga atau keempat.
.
*Ralat :*
*Perlakuan seperti itu adalah adat jaman jahiliyyah. Setelah Islam datang maka semua adat itu dikoreksi total oleh Islam. Setelah sah secara syariat menjadi istri maka semua istri 1, 2, 3, dan 4 mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama terhadap suami.*
.
5. Banyak manusia bilang, poligami mengambil hak istri tua.
.
*Ralat:*
*Dalam poligami suami mengambil / memanfaatkan haknya sendiri, istri ke 2, 3,dan 4 juga memanfaatkan haknya sendiri pula. Istri pertama jika menghalangi, mencegah suami atau istri 2,3 dan 4 itulah orang yang menghalangi hak 4 orang tersebut.*
.
6.Banyak manusia bilang, zaman sekarang poligami hanya menuruti hawa nafsu.
.
*Ralat :*
*Berpoligami itu mengendalikan hawa nafsu dari perbuatan haram / tercela dan berdosa agar menjadi perbuatan halal / terpuji dan berpahala. Karena itu Menikah secara Poligami itu justru Berpahala. Karna Mengikuti Perintah Allah & Sunnah Rasululloh dalam menyalurkan nafsu syahwat.
.
7.Banyak orang bilang, klo mau berpoligami ala Rosululloh, carilah wanita janda.
.
*Ralat:*
*Rasululloh tidak menganjurkan memilih janda, justru menganjurkan memilih gadis, yang cocok dengan selera sehingga diperbolehkan melihat calon istri terlebih dulu.*
.
8.Banyak orang bilang, poligami hanya bikin masalah.
.
*Ralat:*
*Poligami justru adalah Solusi untuk mengatasi masalah suami agar lebih bisa mengendalikan pandangan dan farji/kemaluannya. Dan Solusi mengatasi masalah wanita yang membutuhkan pengayoman, pengawasan, pendidikan, nafaqah dan sebagainya.*
.
.
.
CATATAN
untuk tambah pengetahuan bukan bahan perdebatan.....
Bagi yg keberatan dengan postingan di atas dan merasa jengkel atau ngamuk ngamuk maka bukalah Al Qur'an dan Al Hadits dan pelajari dengan baik baik hal hal berkaitan dengan poligami dan segala ketentuannya menurut Al Qur'an dan As-Sunnah dengan hati yg jernih, dan mempelajari nya harus dengan beberapa Guru yg amanah, tsiqoh, Muktabarah dan mumpuni dalam Ushul maupun furu '
.
.
.
Baarakallahu fikum. ..^^

Friday, 27 January 2017

WANITA YANG KEMATIANNYA DISAMBUT OLEH MALAIKAT


( bacalah dgn penghayatan...semoga menambah jasbah/ semangat keberagamaan kita )
_ Bismillahirrahmaanirrahiim _
Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.
Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan.
Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.
Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.
“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”
Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”
Nusaibah tertunduk sebentar,
“Inna lillah…..” gumamnya,
“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,
“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan bagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
*“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”*
Mata Amar bersinar-sinar. *“Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”*
Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.
“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.
Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”
Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”
Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.
Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya.
“Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya.
“Tapi engkau wanita, ya Ibu….”
Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.
Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.
“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.
Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.
Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.
Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.
Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.
Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”
Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”
(subhaanallah.....bukan dirinya yang diperhatikan malah keselamatan Rasulullah yang ditanyakan ) Allahu Akbar...
“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”
“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.
Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
*Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.*
Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”
Subhanallah..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di Barabai hingga seluruh alam.
Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..
Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?
Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang. Kalo ingin anak menjadi kuat, maka kita harus menjadi ibu yang kuat terlebih dahulu.
IN SYA ALLAH....!!!!!!

Monday, 17 October 2016

SUAMI YANG TIDAK PERNAH MENYENTUH ISTRINYA

Kisah yang sangat mengharukan, Lelaki ini tak pernah menyentuh istrinya sejak Menikah Hanya Karena....
Siapkan tisyu untuk membacanya..
Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:
“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku  merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan di jalan, sebab sopan santunnya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,
Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.
Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampungan banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah ruang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek setiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam Kamisnya. Apalagi setiap malam Kamis dan malam Minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget di sebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.
Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.
Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.
Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumpaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bisa menahan air mataku, mantan kekasihku Boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.
Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar suara  takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah di bawah ranjang pengantin kami.
Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.
Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu menafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungkitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyentuhku.
Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? Kenapa dia begitu dingin padaku? Apakah aku kurang di matanya? atau? Pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? Bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? Ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.
Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku
perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak di rumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.
Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarna hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.
Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekkan di rumah.
Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani di bawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat Tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.
Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? Kenapa ada di bawah? Nanti kau kedinginan? Ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? Bukankah aku ini istrimu? Bukankah aku telah halal buatmu? Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? Apa artinya diriku bagimu kak? Apa artinya aku bagimu kak? Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? Mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? Kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?” ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini padaku? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? Dan apa pekerjaan seorang pelacur? Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.
Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kakak melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu Boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas kebahagiaanmu.
Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?
Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kakak. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak Arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.
Di akhir tahun 2008,  Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.
Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.
Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”
NB : Kisah Nyata dari Akhwat di
Copyright (c) 2016 Jhon Lennon Allright Reserved. Powered by Blogger.

Kirim Saya Email

Name

Email *

Message *